Muridku... dan Luka dari Rumahnya (PART 1)
Bagian I – Bangku yang
Selalu Kosong
By : Yats Lengandai
Bangku itu kosong lagi.
Bukan karena pemiliknya sakit. Bukan pula karena ia membolos. Bangku itu kosong karena pagi-pagi sekali, ketika matahari bahkan belum selesai mengusir embun dari daun-daun jagung, seorang anak kelas tujuh telah lebih dulu memanggul karung benih menuju ladang.
Aku menghentikan penjelasan tentang time.
Tatapan dua puluh satu pasang mata mengikuti arah pandangku ke bangku paling belakang, tepat di dekat jendela yang kacanya retak. Bangku itu seperti memiliki kebiasaan sendiri, selalu kehilangan pemiliknya setiap kali musim tanam datang.
"Pak, Ari tidak masuk lagi?" tanya Nisa.
Aku menutup buku pelajaran perlahan.
"Iya."
"Sudah tiga hari."
Aku mengangguk.
Tidak ada lagi yang bertanya.
Anak-anak di desa ini terlalu akrab dengan alasan itu. Mereka tahu musim tanam lebih sering memenangkan pertarungan daripada sekolah.
Aku melanjutkan pelajaran, tetapi pikiranku tidak pernah benar-benar berada di depan papan tulis. Di sela materi yang kutulis dengan spidol hitam, bayangan Ari terus hadir, tubuh kecilnya, bahunya yang kurus, dan telapak tangannya yang selalu dipenuhi garis-garis kasar, tidak seperti tangan anak-anak lain.
Bel istirahat berbunyi.
Aku membuka buku absensi.
Di samping nama Ari, tanda alpa mulai berderet seperti luka yang tak pernah sempat mengering.
Ari bukan murid yang bodoh.
Justru sebaliknya.
Pada awal tahun ajaran, ia selalu menjadi anak pertama yang mengangkat tangan ketika aku melemparkan pertanyaan. Matanya berbinar setiap kali berhasil menyelesaikan soal. Ia pernah berkata kepadaku, dengan wajah penuh keyakinan, bahwa suatu hari nanti ia ingin menjadi guru.
"Aku mau mengajar anak-anak supaya mereka pintar," katanya waktu itu.
Aku masih mengingat kalimat itu.
Sebab kini, setiap kali bangkunya kosong, aku bertanya-tanya, apakah mimpi juga memiliki musim? Apakah ia ikut mengering ketika ladang memanggil lebih keras daripada lonceng sekolah?
Hari keempat, Ari datang.
Ia berdiri di depan pintu kelas sambil menundukkan kepala.
Seragam putihnya berubah menjadi kecokelatan. Di ujung lengan bajunya masih menempel debu tanah merah. Sepatunya basah oleh lumpur yang mulai mengering.
"Maaf terlambat, Pak."
Aku mengangguk.
"Masuklah."
Ia berjalan pelan menuju bangkunya.
Tidak ada suara.
Tidak ada langkah riang seperti biasanya.
Ketika pelajaran dimulai, aku meminta anak-anak mengerjakan latihan yang telah kuberikan sejak dua hari lalu.
Semua membuka buku.
Kecuali Ari.
Ia hanya memandangi halaman kosong dengan mata yang kebingungan.
"Ada yang tidak mengerti?"
Ia berdiri perlahan.
"Pak... aku tidak tahu ini."
Aku menghampiri mejanya.
Soal itu sederhana. Materi yang dulu selalu mampu ia selesaikan tanpa bantuan.
Kini ia memegang pena seperti orang yang sedang memegang benda asing.
Tangannya gemetar.
Ia menulis satu kata.
Menghapusnya.
Menulis lagi.
Lalu menghapusnya kembali.
Dadaku mendadak sesak.
Empat hari.
Hanya empat hari meninggalkan sekolah.
Tetapi bagi seorang anak yang setiap hari harus mengejar pelajaran baru, empat hari ternyata cukup untuk membuat rasa percaya dirinya runtuh.
Aku tidak melihat seorang anak yang lupa belajar.
Aku melihat seorang anak yang perlahan kehilangan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar.
Sepulang sekolah, aku memanggil Ari.
"Kamu membantu Bapak di ladang?"
Ia mengangguk.
"Dari jam berapa?"
"Sehabis Subuh."
"Sampai?"
"Kalau belum selesai... sampai malam."
Aku terdiam.
"Lalu belajar kapan?"
Ia tersenyum kecil.
"Sebelum tidur."
"Kamu masih sempat membaca buku?"
Ia menggeleng.
"Kalau sudah sampai rumah... aku sering ketiduran."
Kalimat itu diucapkannya biasa saja.
Seolah kelelahan adalah sesuatu yang memang seharusnya dimiliki anak berusia sebelas tahun.
Aku menatap wajahnya yang mulai menghitam terbakar matahari.
Di balik senyumnya, ada sepasang mata yang tampak jauh lebih tua daripada usianya.
Hari itu, untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa ada luka yang tidak berasal dari pukulan.
Luka itu bernama keadaan.
Dan rumah Ari sedang mengajarkannya cara menjadi dewasa, jauh sebelum sekolah sempat mengajarkannya cara bermimpi.BERSAMBUNG...